Rambu Solo, Pemakaman Khas Toraja

Uncategorized | May 19 | 2020 | No Comment

 

Seperti yang kita ketahui, Indonesia adalah negara dengan budaya atau tradisi khas di setiap daerahnya. Salah satunya adalah Rambu Solo sebuah upacara adat dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Rambu sendiri berarti asap atau sinar, sedangkan Solo artinya turun. Rambu Solo dapat diartikan sebagai upacara yang dilaksanakan ketika sinar matahari mulai turun. Di Tana Toraja, Rambu Solo bertujuan untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang yang telah meninggal menuju alam keabadian dan bergabung dengan para leluhur. Rambu Solo biasanya menghabiskan waktu yang lama dan uang yang cukup banyak bergantung pada kesepakatan keluarga.

Rambu solo bisa dikatakan sebagai upacara penyempurnaan, karena orang akan dianggap benar-benar wafat setelah seluruh prosesi upacara ini dilaksanakan. Jika belum, maka orang yang wafat itu hanya dianggap sebagai orang yang “sakit”  sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya ketika masih hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberi makanan dan minuman, bahkan diajak berbicara. Selain itu, orang Toraja arwahnya mencapai tingkatan dewa  untuk kemudian menjadi dewa  pelindung. (Mohammad Natsir Sitonda, 2007).   

Mengutip dar (tonenebece.blogspot.com/2016/03/asal-usul-dan-arti-aluk-rambu-solo_19.) Rambu Solo  dibagi menjadi 4 jenis, yaitu:

  1. Silli’, yakni upacara pemakaman untuk kasta paling rendah, yaitu kastakua-kua atau budak. Upacara jenis ini tidak ada pemotongan hewan sebagai persembahan dan dibagi dalam beberapa bentuk, seperti dedekan (upacara pemakaman dengan memukulkan wadah tempat makan babi) dan pasilamun tallo manuk (pemakaman bersama telur ayam).
  2. Pasangbongi, yakni upacara yang hanya berlangsung satu malam. Yang termasuk jenis ini antara lain bai a’pa’ (persembahan empat ekor babi), si tedong tungga (persembahan satu ekor babi), di isi (pemakaman untuk anak yang meninggal sebelum tumbuh gigi dengan persembahan seekor babi), dan ma’ tangke patomali (persembahan dua ekor babi).  
  3. Di batang atau di doya tedong, yakni upacara untuk kasta tana’ basi(bangsawan menengah) dan tana’ bulan (bangsawan tinggi). Selain kerbau, upacara jenis ini juga mempersembahkan babi dan ayam. Upacara biasanya digelar selama 3-7 hari berturut-turut. Pada akhir acara, dibuatkan sebuah simbuang (menhir) sebagai monumen untuk menghormati orang yang wafat.
  4. Rapasan, yakni upacara khusus bagi golongan tana’ bulan (bangsawan tinggi) yang digelar selama 3 hari 3 malam. Termasuk upacara jenis ini, antara lain rapasan diongan (rapasan tingkat rendah hanya memenuhi syarat minimal persembahan 9-12 kerbau), rapasan sundun (rapasan lengkap persembahan 24 ekor kerbau dan babi tak terbatas), dan rapasan sapu randanan (rapasan simbolik dengan persembahan yang diandaikan 30 ekor kerbau) (Sitonda, 2007) 

Saat ini Rambu Solo mungkin saja telah mengalami perubahan karena beberapa faktor. Namun, tidak ada salahnya untuk tetap mempelajari tradisi di Indonesia. Semoga kedepannya tradisi-tradisi di Indonesia tetap bertahan dan dilestarikan dengan baik oleh para penerus.

 

Mau info menarik lainnya? follow juga akun instagram kami @kktour