Re-thinking Pembangunan Pariwisata Bali Pegunungan “Batur UNESCO Global Geopark”

Uncategorized | Mar 12 | 2019 | No Comment

Batur Unesco Global Geopark
Batur Unesco Global Geopark

Perkembangan Kintamani sebagai sebuah destinasi telah mengalami berbagai fase yang tentunya menimbulkan dampak baik positif maupun negatif. Berbagai upaya telah dijalankan oleh pemerintah, namun masih pariwisata Kintamani perlu berbenah.
Banyak predikat dan penghargaan telah diperoleh Kintamani seperti Batur Global Geopark dan World Cultural Heritage oleh UNESCO, dimana ini adalah prestasi yang tidak semua daerah bisa meraihnya. Perkembangan kepariwisataan di Kintamani tidak terlepas dari tenarnya Bali di kancah dunia. Bahkan beberapa waktu lalu, Bali dinobatkan sebagai World Best Island Destination versi Tripadvisor. Hal ini, sekali lagi menjadi “trigger” buat para pemangku kepentingan pariwisata Bali untuk semakin semangat memberikan pelayanan terbaiknya bagi para turis. Tapi timbul suatu pertanyaan sederhana, apakah Kintamani merasakan pengaruh yang signifikan dari semua prestasi itu untuk kemajuan pariwisatanya? 

Ada apa dengan Pariwisata Kintamani???
Bila dicermati lebih dalam, permasalahan pariwisata Kintamani lebih terlihat pada sisi “intern”nya (produk wisata) bukan sisi “ekstern” nya (pasar wisata).  Satu hal yang mudah dilihat adalah sampai saat ini belum ada tata kelola yang secara pasti dan jelas mengurus pariwisata Kintamani itu sendiri. Banyak terjadi tumpang tindih dalam hal regulasi yang berakibat pada inkonsistensi pada eksekusi kebijakan di lapangan. Hal ini jelas, memberikan “kerugian” bagi Kintamani, karena yang menjadi korban adalah ketidakpuasan wisatawan yang berujung pada turunnya citra pariwisata Kintamani. Pada akhirnya, tujuan pengembangan pariwisata untuk mensejahterakan masyarakat lokal semakin sulit tercapai.

Pemerataan Pembangunan Pariwisata di Bali
Dalam pertemuan diskusi terfokus para pimpinan OPD Pemda Bangli dengan Tim Percepatan Pembangunan Pariwisata Bangli sempat terlontarkan isu pembentukan klaster baru di Bali. Menurut salah satu tim percepatan yang juga pelaku pariwisata Bagus Sudibya menyatakan bahwa sebenarnya secara invisble Bali telah terbentuk 3 klaster. Klaster I yaitu terdiri dari Badung, Denpasar, Gianyar dan Tabanan adalah klaster yang sudah maju dalam hal pariwisata di Bali. Namun jauh tertinggal kabupaten lain seperti Bangli, Karangasem, Buleleng, Klungkung dan Jembrana. Kabupaten tersebut merupakan daerah yang memiliki sumber daya yang menopang aktivitas pariwisata di Bali Selatan namun sayangnya tidak banyak memperoleh benefit. Bila dihitung PHR yang masuk ke semua kabupaten yang ada di klaster II pun belum bisa menandingi PHR dari satu Kabupaten Badung. Bahkan terkesan saat ini, kabupaten lain yang menerima bantuan seperti “meminta-minta”, jelas secara psikologi ada hal yang tidak sesuai bila terus menerus seperti ini. Dalam jangka panjang, tentu  diperlukan cara pandang yang baru untuk menyikapinya.

Apa maksudnya klaster baru?

Banyak wacana yang menyampaikan bahwa Bali seharusnya dikelola satu pintu atau sering dikenal dengan istilah One Island Management yang berarti semua sistem terintegrasi dalam satu wadah. Tapi seperti apa? 

Seperti disampaikan sebelumnya, Klaster I adalah klaster yang sudah maju pariwisatanya, sehingga aktivitas wisata berjalan relatif baik. Klaster II mungkin bisa terdiri dari Bangli, Karangasem, Buleleng dan Jembrana. Hal ini dikarenakan untuk mengimbangi pengembangan pariwisata Bali Selatan. Untuk klaster III bisa terdiri oleh Kabupaten Klungkung yang notabene Klungkung memiliki potensi pariwisata Bahari yang luar biasa dengan Nusa Penida, Lembongan dan Ceningan. Dengan berkembangnya tiga klaster ini, spirit dari One Island Management mungkin segera bisa terlaksana. Bagus Sudibya menambahkan, pembentukan Klaster II ini menjadi penting bila memang ingin ada pemerataan pembangunan Pariwisata di Bali. Banyak isu seperti akan dibangun bandara di Buleleng, rel kereta dan jalan tol sebagai sarana aksesibilitas yang bisa mendukung pariwisata Bali Utara. Yang perlu menjadi perhatian, bila semua fasilitas benar dibangun, maka #sinergi menjadi sangat diperlukan. Hal ini bertujuan untuk menopang pertumbuhan ekonomi di Klaster II. Sehingga kebijakannya pun harus jelas terarah yang nanti bisa menciptakan kondisi yang ramah lingkungan, ramah masyarakat, ramah investasi dan ramah wisatawan.

Apalagi sekarang kebijakan pemerintah pusat yang membentuk 10 Destinasi Bali Baru perlu perhatian khusus. Dari penamaan Bali Baru, jelas Bali adalah menjadi kuncinya. Sehingga mau tidak mau, Bali terus harus dikembangkan. Ditambah target kunjungan wisatawan di tahun 2019 adalah 20 juta wisatawan dan Bali ditargetkan bisa mencapai setengahnya.  (tarik napas).

Pertanyaannya kemudian, mampukah Bali menampung kunjungan wisatawan kira-kira 10 juta orang?. Melihat Bali sekarang dengan jumlah kunjungan sekitar 4 juta saja sudah “sesak” dan kemacetan menyebar ada dimana-mana. Bila dikaitkan dengan teori Butler, mungkin saat ini adalah fase yang disebut dengan Consolidation. Artinya, Bali memerlukan suatu kebijakan baru agar timbul sinergitas dari semua stakeholder sehingga penyelengaraan pariwisata berjalan lancar dan terhindar dari yang namanya  stagnation apalagi decline

Berkaca dari kondisi ini, rasanya sulit mengembangkan Bali dengan target 10 juta wisatawan tanpa menambah sarana fasilitas dan menumbuhkan aktivitas ekonomi baru diluar area Bali Selatan. 

Apa yang harus dilakukan Kintamani?

FGD Penyusunan Rekomendasi Pengembangan Pariwisata Kintamani
FGD Penyusunan Rekomendasi Pengembangan Pariwisata Kintamani

Dalam diskusi terfokus ini muncul beberapa rekomendasi bagi para pengambil kebijakan di Bangli, diantaranya:

1. Segera menjalin pendekatan untuk membentuk Klaster II yang mensinergikan Bangli, Karangasem, Buleleng dan Jembrana. Hal ini akan menjadi “umpan” atau magnet daya tarik bagi para pihak yang berkepentingan sehingga  tercipta Link and Match antara produk yang disediakan dengan pasar wisata yang berkembang.

2. Pemerintah diharapkan membentuk lembaga profesional yang mengatur secara khusus aktivitas kepariwisataan di Kintamani baik itu Badan Otoritas/ Badan Usaha/ Perusda atau model lembaga lainnya yang bisa mengakomodir semua stakeholder pariwisata khususnya Kintamani. 

Sempat juga terlontar ide agar Kintamani membentuk semacam korporasi yang terinspirasi dari Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) yaitu membentuk Kintamani Tourism Development Corporation (KTDC). Namun jelas, hal ini perlu kajian lebih mendalam, karena ditakutkan walaupun nanti memberikan penghasilan yang besar tapi masyarakat hanya menjadi penonton, pariwisata sulit akan berkelanjutan. Seperti yang terjadi di kawasan-kawasan  elit destinasi wisata dunia, kebocoran (leakages) sering sulit dihindari. Hal ini juga disampaikan oleh Tim Ahli Batur Unesco Global Geopark I Wayan Kastawan yang menyatakan Kintamani telah menjadi bagian dari Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Ini berarti, kedepan perlu dibentuk badan otoritas yang mewilayahi Kintamani. Badan otoritas ini pun harus mewakili kepentingan masyarakat lokal di Kintamani. Agar jangan sampai masyarakat lokal tidak dilibatkan dalam pengembangan pariwisata di daerahnya. 

Yang jelas, pembetukan lembaga merupakan sebuah solusi alternatif dalam pengembangan pariwisata di Kintamani. Sering dibahas, Kintamani sebagai sebuah destinasi pariwisata (produk wisata) tidak cukup hanya memperhatikan 3A yaitu attraction, accesibilities, dan amenities semata. Namun minimal 4A, dengan perlu adanya ancillary services (kelembagaan). Lembagayang nantinya bertugas mengatur aktivitas kepariwisataan di Kintamani mulai dari perencanaan, Pengemasan, Pelayanan (hospitality) , Pemasaran dan lainnya sehingga Kintamani mampu dikelola secara profesional.

Salah satu langkah awal yang harus dijalankan adalah percepatan penandatanganan perjanjian kerjasama (MoA) antara Pemkab Bangli dengan Kementerian Lingkungan Hidup sehingga sinergi industri pariwisata lebih jelas secara regulasi. Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh di wilayah pariwisata Kintamani/ Batur Unesco Global Geopark.

Bersambung …………..

Penulis: I Gede Gian Saputra